Anak Laki-Laki dan Bunga

ANAK LAKI-LAKI DAN BUNGA

*gambar hanyalah ilustrasi

Alkisah hiduplah dua anak laki-laki yang saling bersahabat. Keduanya tinggal di sebuah istana bersama keluarga mereka, yang bekerja untuk melayani Raja.

Salah satu dari anak laki-laki tersebut menyukai seorang anak perempuan yang juga tinggal di istana. Dia sangat ingin memberikan hadiah kepada anak perempuan yang disukainya itu.
Suatu hari, Si Anak Laki-laki sedang berjalan dengan sahabatnya di aula utama istana. Ketika berjalan-jalan, dia melihat sebuah vas besar berisi bunga-bunga indah.

Dia pun mengambil satu untuk diberikan kepada anak perempuan yang disukainya.
Pada hari berikutnya, berikutnya, dan berikutnya, dia melakukan hal yang sama.
Hingga suatu hari, Raja menyadari bunga di dalam vas tinggal sedikit. Raja sangat marah dan memanggil semua orang di istana untuk berkumpul.

Ketika semua orang menghadap Raja, anak laki-laki itu berpikir untuk mengatakan bahwa dialah yang mengambil bunganya.
Namun, temannya menyuruhnya diam, karena Raja akan sangat marah padanya.
Ketika Raja mendekat, anak laki-laki itu pun mengaku. Sesaat setelah anak laki-laki itu mengakui perbuatannya, muka Raja menjadi merah karena marah.

Tetapi saat mendengar alasannya, senyum muncul di wajah Raja. Sang Raja pun berkata "Ternyata bunga itu punya manfaat lebih baik daripada di dalam vas saja."

Sejak hari itu, Si Anak Laki-laki dan Raja menjadi teman baik. Mereka kemudian mengambil 2 bunga yang indah, satu untuk Si Anak Perempuan, dan yang lainnya untuk Ratu.

Pertanyaan:
1. Tokoh apa yang menginspirasi dari kisah tersebut? 
2. Setelah membaca kisah tersebut, pernahkan punya pengalaman menarik tentang kejujuran? Ceritakan!
Jawaban:
1. Tokoh yang bisa diambil sebagai inspirasi dari kisah tersebut adalah Si Anak Laki-laki, yang menunjukkan kejujuran, kebaikan hati, dan ketulusan dalam perbuatannya. Meskipun awalnya takut akan kemarahan Raja, dia tetap berani mengakui tindakannya, yang pada akhirnya mendapat penghargaan dan persahabatan dari Raja.
2. Saat masa pandemi, saya sangat-sangat malas untuk belajar, apalagi mengerjakan tugas. Saya berpikir bahwa untuk apa belajar jika daring seperti ini? Akhirnya saya pun lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain game, membuka sosial media, hingga lupa waktu. Sampai akhirnya nilai rapot dibagikan, saya sangat terkejut hasil nilai saya sangatlah buruk. Saya merasa kecewa dengan nilai saya, saya malu, dan saya takut untuk memberitahu nilai rapot saya kepada orangtua saya. Padahal, yang membuat nilai rapot jelek itu sendiri karena saya sering menganggap remeh belajar daring. Tapi akhirnya saya tetap untuk memutuskan memberi nilai rapot dan menjelaskan mengapa bisa seperti itu. Saya terkejut orangtua saya tidak marah, mereka kecewa namun tetap mendukung saya. Mereka memberi nasihat dan perlakuan tegas yaitu memberikan batasan waktu untuk handphone saya. Terlepas dari itu saya tidak peduli, saya hanya senang orangtua saya sama sekali tidak marah kepada saya. Sejak saat itu, bukannya tambah bermalas-malasan, saya malah semakin semangat untuk belajar dan mengasah ilmu.